recent posts

banner image

Soal Pribumi, Anies Maunya Apa?


Ilustrasi Anies by Satriaartdesign

Baru sehari menjabat Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sudah menuai sensasi. Berkat pidatonya, ia mendapat ribuan pertanyaan soal "pribumi" dari sana-sini. Lalu, Anies maunya apa? 

"Saya bicara tentang era kolonial Belanda. Titik," tegas Anies di Balai Kota DKI Jakarta, sehari kemudian, Selasa (17/10/2017) sore. "Cukup sampai di sini," kata Anies menolak tanya wartawan.

Pidato pria 48 tahun itu memang fenomenal. Sampai-sampai seratus orang yang tergabung dalam Komunitas Anak Bangsa berunjuk rasa seminggu kemudian dan mendeklarasikan kolaborasinya dengan Federasi Indonesia Bersatu untuk melaporkan Anies ke polisi. Laporan itu diterima dengan nomor laporan LP/1082/X/2017/Bareskrim tertanggal 19 Oktober 2017.

Djarot Saiful Hidayat, Gubernur DKI sebelumnya, mengaku tidak paham dengan maksud dan niat dari pidato Anies itu. "Saya gak tahu apa pola pikir dia, (Anies) maunya apa itu gak ngerti. Nawaitunya dorongan dari dalam itu, apa benaknya ngomong apa saya gak tahu. Daripada saya keliru ya," kata pria berkumis itu saat ditanya Najwa soal curhatan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait masalah yang sama.

Ahok sendiri juga mantan Gubernur Ibu Kota yang harus dipenjara karena pidatonya di Kepulauan Seribu. Ia penasaran dan mempertanyakan sebab akibat pidato Anies kepada mantan wakilnya saat dijenguk di Penjara Mako Brimob.

"Kok pidatonya begitu, mas? Mas, lihat? denger? Nggak. Aku denger dari orang-orang kok pidato kok masalah ini ini. Trus gimana, Mas?" tanya terpidana kasus penodaan agama itu kepada Djarot.

Dibahas Orang Luar


Masalah pidato tandemnya Sandiaga Uno ini rupanya tidak hanya menggegerkan Tanah Air. Di Australia saja kata itu dibahas dalam kuliah Herb Feith di Monash University, Rabu malam (18/10/2017).

Adalah Professor Charles Coppel dari Melbourne University, yang membawakan tema "Warga China atau Tionghoa di Indonesia". Ia sempat menyinggung soal pidato Anies, karena sebelumnya ia juga membahas Ahok sebagai bagian dari cerita mengenai warga Tionghoa Indonesia.

"Menurut saya, kata 'pribumi' yang digunakan Anies Baswedan aneh dalam tiga hal," ujar Profesor Coppel.
Dijuluki sebagai "Bapak Jurusan Indonesia di Australia", ia berani menjabarkan kesalahan-kesalahan Anies dalam pidatonya. "Pertama dalam soal penjajahan, kolonial. Jadi sekarang ini Indonesia dijajah oleh siapa," kata dia bertanya-tanya.

"Kedua, adalah kata pribumi. Sementara Anies sendiri bukanlah pribumi, karena dia peranakan Arab," jelasnya lagi.

"Dan ketiga, pernyataan itu tidak memperhatikan jasa kelompok seperti Tionghoa Muslim di Indonesia." lanjut Coppel seperti dilansir dari Kompas.com.

Sebenarnya Apa Itu Pribumi?


Jika hanya sebagai sebuah kata atau terminologi, tak ada yang salah dengan kata "pribumi” ataupun kegiatan kaum pribumi. Ia menjadi sensitif jika kata "pribumi” itu berubah menjadi sebuah kesadaran kolektif mayoritas menyusun perjuangan ekonomi dan politik.

Itulah respon cepat pendiri Lembaga Survei Indonesia, Denny JA, dalam artikelnya. Di sisi lain, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan pribumi sebagai penghuni asli, yang berasal dari tempat yang bersangkutan. Dalam bahasa Inggris ia diterjemahkan sebagai indigenous people.

PBB sendiri selaku lembaga tertinggi dunia, sejak tahun 1994, menetapkan hari internasional bagi rakyat pribumi di seluruh dunia. Hari itu jatuh pada tanggal 9 Agustus. Pada momen tersebut kaum pribumi di seluruh dunia merayakannya, sekaligus mendiskusikan kondisinya.

Bahkan PBB sudah pula menetapkan hak asasi bagi kaum pribumi di seluruh dunia: United Nations Declaration of the Rights of Indigeneous People. Dalam artikel 3 hak pribumi itu berbunyi: hak kaum pribumi untuk mengejar kepentingan ekonomi, sosial dan kultural.

Kata pribumi juga bahkan menjadi nama sebuah organisasi resmi di Indonesia: Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI). Di tahun 2015, bahkan pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang diwakili wakil presiden Jusuf Kala (JK) juga menghadiri acara pengusaha pribumi itu.

Pertanyaannya, mengapa hak kaum pribumi yang justru dirayakan oleh dunia, dan di Indonesia sendiri ada organisasi resmi menggunakan kata pribumi seperti HIPPI, kini menjadi begitu sensitif di Jakarta atau Indonesia. Apalagi ketika Anies Baswedan mengutipnya dalam pidato?

Berpikir dengan kepala dingin dalam menghadapi masalah ini, bukanlah hal sulit. Meski pemerintah sendiri sudah melarang kata pribumi lewat Instruksi Presiden RI No. 26 Tahun 1998, bukan berarti kita menjadi terlalu cepat panas.

Instruksi Presiden RI No. 26 Tahun 1998


Seperti yang dikatakan seorang youtuber dalam chanel CameoProject. "Seorang pemimpin yang baik tidak akan mungkin bisa bekerja maksimal tanpa dukungan penuh dari orang yang dipimpinnya".

Ia menyarankan masyarakat untuk tidak terlalu "latah" melaporkan kasus yang sebetulnya biasa saja. Melainkan seperti yang sering diminta Anies Baswedan dalam berbagai kesempatan, rakyat harus bersatu padu memberi dukungan penuh demi Ibu Kota yang lebih baik.






Lalu menurut pembaca, Anies maunya apa?








Sumber: Kompas.com, WartaKota, RMOL.CO, Youtube.com.
Soal Pribumi, Anies Maunya Apa? Soal Pribumi, Anies Maunya Apa? Reviewed by Redaksi on October 25, 2017 Rating: 5

27 comments:

  1. "Berpikir dengan kepala dingin dalam menghadapi masalah ini, bukanlah hal sulit. Meski pemerintah sendiri sudah melarang kata pribumi lewat Instruksi Presiden RI No. 26 Tahun 1998, bukan berarti kita menjadi terlalu cepat panas."

    suka banget sama line yg ini. memang seharusnya orang-orang lebih terbuka pikirannya dan jangan cepat kebawa emosi. tp mungkin timing-nya Anies bawa-bawa istilah "pribumi" salah makanya banyak yg terbakar sulut emosi.

    intinya mah this is great. i enjoyed reading it. terus berkarya ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah membacanya. Ya, berpikir jernih itu penting, agar tidak terjadi kesalahan persepsi di banyak kepala.

      Sekali lagi terimakasih dukungannya.

      Delete
  2. jangan cepet kebawa emosi? kok kasus ahok gaada orang yg ngomong gini ya? malah berlomba2 untuk emosi
    padahal kasusnya sama persis, tentang sara
    kalo hukumannya gak sama, amat sangat aneh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan tidak ada, pasti ada dan bahkan cukup banyak yang memperjuangkan. Namun terpenjaranya Ahok menjadi pembelajaran bagi kita untuk tidak bertindak gegabah, sampai kita tahu Aksi 411 berakhir dengan kericuhan dan perekonomian negara cukup terkuras dengan adanya aksi-aksi "berjilid" itu. Maksudnya, tetap bertindak dingin agar fenomena politik yang cukup masif tidak terjadi lagi (dimanfaatkan elit politik). Positif dikali negatif, maka hasilnya negatif. Semoga Anda paham maksud saya. Toh jika terus berkutat pada masalah "kata-kata" seperti ini, Jakarta akan terus jalan di tempat dan akan terus mencari-cari pemimpin lagi dan lagi. Semoga menjawab.

      Delete
  3. terus menurut lo itu wajar? enak emang kalo ngomong mah gampang. situ team Anies ya? pantesan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya tidak bilang itu wajar apalagi saya tim Anies. Haha. Saya hanya warga Jakarta yang melihat konflik politik terus menerus, padahal warganya haus akan kemajuan. Jika terus berkutat pada masalah "kata-kata" seperti ini, Jakarta akan terus jalan di tempat dan akan terus mencari-cari pemimpin lagi dan lagi, sampai akhirnya masalah yang sama terulang kembali dan lagi dan lagi. Kata-kata itu sulit dikendalikan, jika hanya itu acuan untuk kemajuan Jakarta, lebih baik para gubernur tidak usah bicara.

      Delete
  4. waaaah tulisannya bagus. mungkin, dia maksud nya baik ya mau menghilangkan kesan negatif dari kata pribumi. cuma, org org gampang emosi karna ga berpikir terbuka sih. sukses terus hotlas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo dilihat dari sejarah sih emang kelam banget kata "pribumi" itu. Jadi wajar lah kalo masih ada yang kesulut emosi. Ya, tapi realita saat ini? Hadeuh.. biarlah

      Terimakasih Rani komentarnya! Sukses juga ya

      Delete
  5. Gue sih salut las, emg gokil tulisan lu! Keren keren. Anies maunya Jakarta Lebih Baik, Las. Doain ajaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah bisa aja penulis IDN :v. Ya, pasti yang terbaik. Amin.

      Delete
  6. Susah ya jadi pemimpin. Salah ngomong sedikit bisa jadi celaka ckck😥

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehem.. betul itu. Bener2 deh, warga Jakarte sensitif amat

      Delete
  7. keren kita berdoa aja kedepannya bisa lebih baik dari pendahulu

    ReplyDelete
  8. Baru juga sehari, kita belum lihat kinerjanya gimana. Semoga aja lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya, walaupun saat masa Pak Ahok pun kinerjanya bagus. Ya mungkin kekurangan atau yang belum terselesaikan pada masa Pak Ahok bisa di selesaikan. Semoga dan semoga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Debut yang mengesankan bisa dibilang. Semoga bisa berlanjut juga program2nya yang tak bisa dipungkiri memang membangun Jakarta.

      Delete
  9. Mungkin, kata "pribumi" itu sama seperti "ABRI", ya. Punya reputasi buruk karena disuarakan dengan nada yang sumbang. Jika Anies sudah meminta maaf karena kasus ini, mungkin giliran masyarakat yang perlu membuka diri untuk belajar menerima "pribumi" sebagai kata yang terdaftar di KBBI, terlepas darj sejarah kelamnua. Semoga apa yang menimpa Ahok bisa dijadikan pelajaran oleh semua pihak sehingga tidak sampai terulang kembali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya perlu dibuat list kata-kata berbahaya, biar pemimpin dapat berjaga-jaga dari amukan masa.

      Delete
  10. emang keren las tulisan lu, bikin gua tambah pinter

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama.. yang penting kepintaran dipakai untuk membangun bangsa :v

      Delete
  11. Makasih yaa las infonya, saya merasa jadi cerdas

    ReplyDelete
  12. Kenapa dibikin ribet sih, Jakarta tidak hanya perlu permasalahan yang sama dan berulang ulang tentang " ucapan". Masih banyak lagi yang perlu diurus, kenapa terlalu di lebay kan sih, yang tahu niatnya juga orang yang ngomong sendiri, semoga jangan sampai terulang seperti kejadian pada kasus yang sama sebelumnya, amin
    Jangan lupa kunjungi lsberkarya.blogspot.com yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu betul sekali. Capek kali jalan di tempat pemandangannya sama melulu

      Delete
  13. Yang rentan atau menjadi masalah disini, kata yang digunakan beliau mungkin disaat yang tidak tepat. mengingat beliau baru dilantik sehingga anomi dan antusias masyarakat masih terlalu sensitif. Sehingga, beliau memiliki berbagai tuntutan yang perlu dijalankan karena hal tersebut

    ReplyDelete
  14. kita berdoa saja semoga beliau amanah, bijak, adil, dan tegas dalam bertugas.

    ReplyDelete
  15. Anis pastinya punya niat baik untuk memajukan Jakarta. Namun, mungkin memang semua butuh proses tidak ada yang instan

    Ditambah lagi dgn masalah2 yang ada

    ReplyDelete

Terimakasih sudah membacanya! Tetap berbuat baik adalah pilihan.

Powered by Blogger.