recent posts

banner image

Motorku Juga Jatuh Cinta

Hari ini aku berjalan keliling-liling kota, mencari jodoh lagi bersama pemilikku. Untung aku sudah dimandikan, jadi kulit biru hitamku semakin kinclong memesona.

Tono, begitu aku menyebutnya, selalu merawatku sebaik mungkin ia bisa. Meski harus melihat ke dalam tubuhku hingga meraba alat vitalku, semua dilakukannya demi kebaikanku. Dia pernah bergumam bahwa aku motor kesayangannya.

“Ayo Faster sayang, kita menyusuri aspal baru di kota,” kata Tono sambil membangunkanku dengan kunci khusus yang ia dapat saat pertama kali memilihku. Padahal baru saja aku terlelap semalam.

Di genggaman Tono, aku meraung-raung sebelum berjalan. Suara berat knalpot racing menjadi ciri khas gaya bernyanyiku. Mataku tajam menyala, siap menggoda kendaraan lainnya. Tinggal Tono pintar membawaku meliuk-liuk di antara mereka.

Sementara Tono, siap dengan kacamata hitam dan helm full face-nya. Tubuh kekarnya kini berbalut jaket kulit coklat, celana panjang hitam, dilengkapi sepatu boot coklat. Tidak nyambung dengan warnaku, tapi biarlah, aku tetap tampan.

Masuk ke gigi 1, aku memulainya dari angka 40 km/jam dalam 2 detik. Tono dan aku memang saling mengerti bahwa kecepatan adalah prinsip.

Mesin dua silinder dan tubuh rampingku meliuk-liuk melewati kemacetan. Mata LED tajam menyala memecah kegelapan.

Selama perjalanan, angin bertiup semakin bising. Sayup-sayup Tono mulai bernyanyi sendiri. “Kamu, buat aku tersipu, buatku malu-malu,” begitu nyanyian Tono membawakan lagu Coboy Junior.

Bernyanyi sambil berkendara memang sering dilakukannya. Tidak jarang aku diajak juga. “Ayo Faster sayang, dendangkan suaramu,” katanya memainkan gas, agar suara beratku nyaring terdengar.

“Brmmm,” begitu balasku terpaksa.

Tiba-tiba Tono menghentikan laju kedua roda emasku. “Gila, cantik banget,” kata Tono degan mulut menganga. Lagi-lagi, dia menggoda wanita.

“Halo cantik, mau ke mana?” kata Tono genit sambil memainkan suara beratku. “Brmm.”

Perempuan berambut panjang itu pun terlihat kaget, dan malah kabur meninggalkan Tono.

“Cantik-cantik sombong,” kata Tono mengejek. Dasar Tono bodoh, pikirku.

Bagiku Tono bukan pemain ulung soal cinta. Ia sama sekali belum pernah berhasil menggaet kaum hawa untuk jalan bersama – kecuali mamahnya. Dia hanya mengandalkan lekuk tajam tubuhku untuk menggoda wanita. “Gimana, keren kan motor abang,” kata Tono saat itu, menggoda perempuan remaja SMP 20 Jakarta.

Padahal perempuan sekarang sudah tidak tertarik dengan motor 150 RR sepertiku. Mereka lebih senang generasi terbaru, yaitu adik kesayanganku, 250 RR. Aku bangga menjadi abang kandung mereka. Tapi sebaiknya Tono tidak menjualku, karena aku masih belum menemukan pasangan.

“Brmmm,” gumamku lebih bersemangat saat Tono bermain gas lagi. Kami melaju. Dalam 20 detik, kami sudah secepat 120 km per jam. Aneh, tidak biasanya Tono membawaku secepat ini.

Liukanku semakin mencolok kalau begini. Aku yakin akan banyak kendaraan yang terpesona dengan tubuh biru dove solidku, velg emas Marchesini, dan knalpot Yoshimura buatan Jepang kesayanganku. Tono memang tau benar cara membuatku tampan.

“Aku kecewa,” teriak Tono. “Mengapa semua begitu berat,” lanjutnya lagi. Teriakannya membuat kendali sedikit tidak stabil.

“Aku lelah terus begini. Sendiri dan sendiri,” kata Tono yang baru kusadari meratapi nasib lajangnya. 

Masih kecepatan tinggi, Tono seakan tidak perduli dengan motor-mobil di kanan kiri. “Jalan ini cukup panjang. Seperti kesabaranku, yang panjang. Tapi sayang, jalan ini begitu sepi, seperti hatiku seorang lajang,” ucap Tono mulai puitis.

Tono terlalu berlebihan, aku pun belum menemukan pasangan sampai sekarang, tapi aku tetap tenang. Karena prinsip keluargaku, jodoh itu tinggal kawin saja, tak perlu basa-basi.

Sepuluh menit perjalanan, aku masih berlari di kisaran 30 km per jam sampai 140 km per jam. Mataku nakal berkeliaran mencari kekasih yang kudambakan.

Tak disangka langit sudah gelap. Di sepanjang Jalan Raya Bogor, kami meliuk-liuk melewati banyak medan. Aku semakin kagum dengan kemampuan Tono kalau begini, dia sangat berbakat jadi pembalap kelas dunia. Ya walaupun hanya saat sakit hatinya kambuh. “Woy bego! Mau mati lu,” kata pengendara lainnya saat Tono hampir menyerempetnya.

“Biarin! Yang penting gw ganteng!” kata Tono. Aku dan Tono memang sama narsisnya. Sepanjang jalan, tanpa sepengetahuan Tono, aku juga menebar pesona. Melirik truk-truk besar untuk kugoda. Dengan kedipan lampu LED-ku, aku mencuri gairah truk kontainer idamanku.

Seleraku memang tidak biasa jika dibandingkan spesies motor lainnya. Konon katanya, paling aneh pun para motor hanya menikah sirih dengan mobil kodok atau ambulance. Normalnya, jenisku menikah dengan motor jenis lainnya untuk melahirkan spesies terbaru yang lebih canggih. Tapi aku? Masih senang dengan kontainer sejak dulu. Mungkin aku akan melahirkan kontainer roda dua? Siapa yang tahu.

Tanpa kuduga, saat aku serius mengikuti maunya Tono untuk berlari cepat sambil meliuk-liuk, ada kontainer cantik di depanku. Aku tahu keluarga dia. Jenis yang kuidam-idamkan sejak kemunculannya. Adalah Volvo FH16, truk kuat yang bisa menarik 40 kontainer sekaligus. Sungguh sempurna. 

“Tin-tin,” suara klaksonku karena terlalu bernafsu untuk kawin.

“Klakson kok bunyi sendiri,” kata Tono kebingungan melihat tingkahku.

Aku tidak perduli dengan Tono. Bagiku ini saatnya aku menyatakan cinta. Tubuh biru metalik truk di depanku bukan hal yang mudah kutemukan. Dua lampu trapesium besarnya begitu bersinar malam ini. Dia adalah bidadariku.

Kini gairahku sudah tak tertahankan. Tanpa seizin Tono, aku menggerakkan stangku menuju calon bidadariku. “Bremmmmm,” raung gasku lebih panjang. Tono kebingungan, dia mulai panik tampaknya, tapi persetan dengan dia, yang penting aku bisa kawin dengan truk idamanku itu.

“Tot tot tot tot,” bunyi klakson bidadariku begitu manja. Hanya sepersekian detik lagi, aku bisa bercumbu dengannya. Aku yakin dia pun begitu. Kalaupun dia menolak, paling tidak aku mau berpelukan. Aku akan merayunya hingga mau.

“Brmmm,” raunganku semakin sangar dan mantap. Tono mencoba melawan arah stangku ke kanan-kiri, namun tidak berguna. Rem cakram Nissin di rodaku pun sudah tak ada artinya. Aku sudah bukan milikmu Tono, maaf.  

“Bruak” bunyi kecupan hebatku kepada bidadariku. Tampaknya dia begitu pemalu sehingga aku harus sedikit berbelok sebelum melesatkan ciuman mautku. Hingga akhirnya aku melayang merasakan indahnya surga dunia, sementara tubuh biru hitamku sudah terlipat tidak karuan karena kecupan bidadariku.

Tono? Mungkin sudah terindas roda montok bidadariku. Beruntungnya dia, sedikit mencicipi bidadariku sebelum malaikat pencabut nyawa menjemputnya. Ini sungguh menyenangkan bagiku.
Kini kami berdua sudah puas berpelukan dan melampiaskan nafsu birahi. Terimakasih Tono, sudah mempertemukanku dengan dia. Aku akan menjadi rongsokan sebentar lagi dan mati bahagia. Dan bidadariku, harus sedikit terbakar karena sempat terguling beberapa kali.

“BOOM,” suara ledakan truk Volvo FH16 membakar sekitarnya pula. Semua panik, puluhan pengendara tak bersalah pun menjadi korban jiwa.


“Tabrakan maut kembali terjadi di Jalan Raya Bogor, Cijantung, Jakarta Timur. Tepatnya di depan pabrik biscuit, Kecamatan Kalisari. Tono, 55 tahun, warga Cililitan, tewas setelah sepeda motornya bertabrakan dengan truk kontainer bernomor polisi BL 3709 NH, yang dikemudikan Sulaiman, 29 tahun, warga Depok. Kejadian berawal saat sepeda motor jenis 150 RR datang dari arah Cijantung menuju Bogor, dan menerobos pembatas jalan di depannya. Sementara dari arah berlawanan datang truk yang membawa dua kontainer. Barang bukti berupa bekas ledakan truk dan sepeda motor telah dibawa ke unit kecelakaan lalu lintas di Kramat Jati, Jakarta Timur. Sekian laporan kali ini, saya Rudi Subagio, melaporkan dari Cijantung, Jakarta Timur,” ucap seorang jurnalis menutup perkawinan tersebut.



ilustrasi: httpcdn.abclocal.go.com
Motorku Juga Jatuh Cinta  Motorku Juga Jatuh Cinta Reviewed by Redaksi on October 06, 2017 Rating: 5

No comments:

Terimakasih sudah membacanya! Tetap berbuat baik adalah pilihan.

Powered by Blogger.